Hari Minggu malam itu, saya berdiri di sudut tribun sebuah venue tertutup berkapasitas besar di Jakarta. Kaki saya sudah pegal sejak sore, berdiri mengantre di gate masuk demi mendapatkan posisi menonton yang lumayan. Di tangan kanan saya, secangkir kopi hitam hangat dari kedai dekat lobby venue sudah hampir tandas. Saya datang sendiri, seperti biasa, karena kadang menonton gig sendirian itu jauh lebih jujur untuk meresapi materi suara yang keluar dari sound system utama.
Panggung ditata dengan minimalis elegan khas manajemen Tulus, lengkap dengan jajaran musisi pendukung yang mengisi departemen string dan brass section. Ketika lampu utama venue dipadamkan dan intro track mulai mengalun, ribuan pasang mata langsung beralih ke tengah panggung. Muhammad Tulus Rasydi melangkah keluar mengenakan pakaian rapi bernada bumi. Tak butuh waktu lama bagi penonton untuk langsung bergemuruh menyambut bait pertama lagu pembuka.
Menjaga Intimasi di Tengah Lautan Manusia
Hal yang paling sering saya pikirkan ketika musisi pop solois sekelas Tulus menggelar konser skala arena adalah perihal jarak. Bagaimana cara menjaga intimasi sebuah lagu yang liriknya terasa sangat personal—seolah ditulis di kamar tidur pukul dua pagi—ketika ia dinyanyikan di hadapan belasan ribu kepala? Jawabannya ternyata terletak pada cara Tulus membawakan setiap track tanpa kehilangan artikulasi vokal yang jernih.
Lewat lagu-lagu populer dari album-album terdahulunya seperti Monokrom atau karya-karya terbaru dari album Manusia, aransemen musik dimainkan dengan dinamika yang matang. Petikan gitar akustik berpadu apik dengan denting piano, sementara mixing audio di venue malam itu terbilang rapi. BASSLINE terdengar bulat tanpa mendengung berlebihan di dada, membuat vokal bariton Tulus tetap menonjol di atas panggung.
Ruang Rekonsiliasi Kolektif
Saya mengamati gerak-gerik penonton di sekitar saya. Ada pasangan muda yang berpelukan erat, ada pula perempuan paruh baya yang bernyanyi sambil menghapus air mata dengan tisu. Ketika lagu seperti 'Hati-Hati di Jalan' atau 'Tujuh Belas' dilantunkan, stadion mendadak berubah menjadi ruang karaoke raksasa. Rasanya aneh sekaligus menarik, bagaimana lirik yang spesifik tentang patah hati atau memori masa muda bisa menjadi milik bersama ribuan orang yang tak saling kenal.
"Perjalanan membuktikan / Jiwa yang tidak lelah / Menghadapi dunia..."
Bait dari lagu 'Tujuh Belas' itu menggema begitu lantang dari ribuan pita suara. Saya sendiri hanya diam mengamati sambil sesekali ikut bergumam pelan, maklum suara saya tak pernah merdu kalau dipakai bernyanyi di tempat umum. Haha. Tapi di situlah letak daya tariknya. Konser Tulus malam itu bukan sekadar pamer tata panggung megah atau aksi panggung yang hiperbolis, melainkan sebuah ruang temu bagi orang-orang yang ingin berdamai sejenak dengan kepalanya masing-masing.
Ya sudahlah. Semoga di tulisan berikutnya ada rilisan lokal atau panggung gig skena independen yang lebih intim untuk saya ulas sambil ngopi. Hehe.